Borneo Institute lahir dari inisiasi aktivis pemuda Kalimantan Tengah yang ingin berkontribusi untuk masyarakat Dayak dan lingkungan hidupnya sejak 2007.
Menghadapi ketidakadilan dan dukungan perlindungan akan hutan,tanah leluhur dan keberadaan mereka
Prioritas utamanya menguatkan masyarakat meraih kembali kontrol terhadap desa dan wilayah mereka tinggal.
Jika mereka menjangkau audiensi lebih luas, inisiasi perubahan baik akan muncul dan memberi dampak
Borneo Institute lahir dari inisiasi aktivis pemuda Kalimantan Tengah yang ingin berkontribusi untuk masyarakat Dayak dan lingkungan hidupnya sejak 2007.
Borneo Institute memiliki empat departemen operasional yang dikerjakan oleh spesialis dibidangnya, dan melaksanakan sejumlah proyek tematik.
Kami memberi saran dan mendampingi masyarakat bertani organik, permakultur dan budidaya ikan kolam untuk petani kecil, kami mencoba untuk selalu menggabungkan teknik modern dan ramah lingkungan dengan cara tradisional penduduk desa untuk menjaga tradisi pertanian mereka secara berkelanjutan.
Kami bertanggung jawab memantau pertumbuhan dan kesehatan ratusan dari ribuan pohon yang didonasikan BIT kepada kelompok masyarakat, dan menanamnya selama 5 tahun di area yang telah ditandai dengan baik berkat pemetaan yang dilakukan ahli kami. Kami mengarahkan, melatih dan membantu petani hingga saatnya untuk memanen kayu tersebut.
Kami menganalisa hukum nasional dan peraturan lokal, menyediakan konsultasi legal untuk masyarakat dan juga petani secara perorangan, dan menyusun opini hukum dalam mendukung advokasi dan lobi BIT kepada otoritas politik, untuk mendorong perubahan positif di masyarakat.
Kami bertanggung jawab untuk Website dan penulisannya, sebagai contoh. Tetapi kami juga mengelola majalah BIT dan komunikasi visual Media Sosial. Kami melakukan riset, mengambil foto dan memproduksi video beserta podcast, serta merencanakan kampanye. Kami berbicara dalam Bahasa Indonesia, Dayak, Inggris, Perancis dan Italia. Ayo mengobrol!
Kami berupaya mendukung semua bagian masyarakat, dengan memfasilitasinya dalam peningkatan kapasitas diri, memberi keahlian dan peralatan, serta menciptakan peluang untuk pendidikan informal dan pengembangan.
Tiga desa di Kabupaten Gunung Mas, di Kalimantan Tengah, menginginkan status Desa Adat diakui secara hukum oleh Negara. Tujuan utama mereka adalah kembali mendapatkan kendali atas hutan dan tanah leluhur mereka. Saksikan kisah perjuangan, dalam film dokumenter yang diproduksi bersama oleh Departemen Riset dan Komunikasi dan Departemen Hak atas Tanah Yayasan Borneo Institute.
Setiap kontribusi mendukung upaya konservasi, pengembangan masyarakat, dan advokasi berbasis bukti di seluruh Kalimantan.
Setiap kontribusi mendukung upaya konservasi, pengembangan masyarakat, dan advokasi berbasis bukti di seluruh Kalimantan.